| Desakan Audit PT BLM |
|
|
|
| Ditulis oleh arya | |
| Rabu, 24 Juni 2009 11:53 | |
Pemkab Bulungan diimbau segera menurunkan tim auditor guna memeriksa keuangan perusahaan konsorsium, PT BLM
KRISIS moneter yang mengglobal telah mendera hampir semua dunia usaha. Tak hanya sektor perkayuan yang saat ini benar-benar terpuruk, tapi dunia usaha kecil dan menengah pun tertimpa imbasnya. Contohnya PT Bulungan Lestari Mandiri (BLM) – salah satu perusahaan konsorsium Pemkab Bulungan – yang bergerak di bidang usaha pembekuan udang dan ikan. BLM sendiri sudah beroperasi lebih kurang tiga tahun. Hanya saja, belum ada laba yang didapat selama produksi. “Hasil produksi dan pengeluarannya tidak seimbang. Kucuran kredit perbankan juga lambat. Terasa sulit didapat sehingga perusahaan belum mendapat keuntungan dari tahun ke tahun,“ ucap Arief Kadir saat berbincang dengan BONGKAR! di kamar kerjanya, pekan lalu. Direktur PT BLM itu mengaku, sejak pembangunan pabrik (factory) didirikan, penyertaan modal yang dikucurkan Pemkab sebesar Rp 5,086 miliar. Pengucurannya dilakukan dalam dua tahap – pertama Rp 3 miliar, dan kedua Rp 2,086 miliar. Dana itu belum termasuk hibah lahan pabrik yang disiapkan Pemkab Bulungan. Kenapa BLM selalu merugi? Arief belum merinci persoalannya. Tapi, imbas krisis ekonomi yang mengglobal ini sangat dirasakannya ikut memukul usaha BLM. Sedang terkait audit perusahaan, Arief mengaku secara internal manajemen perusahaan telah diaudit oleh salah satu konsultan independen dari Makassar. Namun, auditor yang dilakukan pemerintah selaku pemilik modal sama sekali tak pernah dilakukan. Tak hanya auditor dari Itwilkab (Inspektorat Wilayah Kabupaten) Bulungan mau pun auditor dari BPKP (Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan). Padahal, kelaziman perusahaan konsorsium itu setiap tahun anggaran wajib mengadakan RUPS (rapat umum pemegang saham). RUPS ini dipandang Arief sangat penting. Sebab, dari RUPS itu bisa diketahui berapa jumlah laba bersih atau pun kerugian selama perusahaan beroperasi. ‘’Sejak awal perusahaan berjalan hingga sekarang rapat dimaksud belum pernah dilaksanakan. Padahal, menurut dia, selaku pemilik modal pemerintah telah menunjuk Syaiful Herman selaku Kabag Ekonomi (sekarang Kepala Bappeda) sebagai wakil pemerintah,’’ ujarnya. Arief Kadir mengaku, pihak PT BLM telah menyurati Pemkab Bulungan agar secepatnya melaksanakan RUPS. Sebab, dengan RUPS ini kedua belah pihak bisa mengevaluasi apa saja yang perlu dibenahi dan disempurnakan guna menghidupkan satu-satunya factory yang ada di Bulungan ini. Berulang-ulang ia menyebut, penyebab utama kerugian perusahaan akibat dampak dampak krisis global yang melanda dunia usaha saat ini. Itu pun diperparah dengan ketersediaan bahan baku produksi yang juga sulit didapat. Kondisi ini sangat berpengaruh langsung ke perusahaan. Contohnya, pada tahun pertama operasi manajemen PT BLM sedikit terseok-terseok. Baru tahun kedua kerugian yang dialami sedikit tertutupi, walau hitungannya juga masih jalan di tempat.
Di sisi lain, urai Arief Kadir, ada satu hal yang sangat menggembirakan. Kehadiran perusahaan konsorsium ini tak hanya banyak menampung tenaga kerja di daerah, tapi mampu pula memberdayakan masyarakat sekitar operasi perusahaan. Kalau sebelumnya perusahaan menggunakan karyawan khusus untuk mengupas kulit udang sebanyak dua ton saja, saat ini pengupasan kulit udang sudah dilakukan masyarakat sekitar dengan imbalan Rp 1.500 per kilogram. “Kita patut bersyukur, walau usaha perusahaan belum mendapat keuntungan setiap tahun, tapi perusahaan masih bisa bertahan. Malah, kehadiran BLM ini sudah bisa dirasakan manfaatnya bagi sebagian masyarakat Kabupaten Bulungan, “ urai Arief Kadir. Menelisik kerugian yang dialami BLM, Kadir melukiskan, tidak setiap tahun manajemen perusahaan mengalami masa-sama sulit atau kerugian. Hanya tahun pertama saja perusahaan mengalami kerugian yang sangat melonjak. Namun, tahun berikutnya manajemen BLM sudah bisa sedikit bernapas dengan pendapatan rugi laba yang hampir seimbang atau BEP (Break Event Point). Itu artinya, perusahaan ini masih memungkinkan dikembangkan dengan berbagai inovasi di masa mendatang. Di bagian lain, Syaiful Herman selaku wakil pemerintah di PT BLM enggan berkomentar. Kepala Bappeda Bulungan itu mengaku tidak mengetahui persis persoalan di perusahaan tersebut. ‘’Silakan tanya Arief Kadir saja. Mungkin dia itu yang tahu persis persoalan untung atau ruginya perusahaan itu,“ ucap Syaiful tanpa memperpanjang pembicaraan. Bagaimana dengan Plt Sekkab Bulungan? Sujati sendiri ketika disambangi BONGKAR! di ruang kerjanya mengaku, rencana RUPS PT BLM dijadwalkan segera dilaksanakan. Ia membenarkan sudah menerima surat dari Direktur PT BLM yang menghendaki agar menggelar RUPS dengan Pemkab Bulungan selaku pemilik modal. ‘’Kita memang sudah menerima surat PT BLM yang mendesak agar dilaksanakannya RUPS. Nah, mengingat besarnya penyertaan modal pemerintah ke perusahaan, maka pengawasan melekat mau tak mau harus ditingkatkan. Kita pun harus melakukan audit keuangan yang berkesinambungan,’’ ujar Sujati, Plt Sekkab yang rangkap jabatan sebagai Asisten I Bidang Pemerintahan Setkab Bulungan itu. Komentar lainnya juga diutarakan anggota DPRD Bulungan, Yans Ngau. Ia melihat, keberadaan saham pemerintah daerah di PT BLM sudah menampakkan adanya kemajuan. Artinya, Pemkab sekarang harus berpikir lebih maju selangkah lagi. ‘’Kalau modal yang ditanam di perusahaan itu berkembang pesat, maka dengan sendirinya pundi-pundi kas pemerintah akan terisi. Gilirannya, dana-dana itu bisa digunakan pemerintah membangun berbagai infrastruktur untuk masyarakat Bulungan sendiri,’’ ungkapnya dalam perbincangan terpisah. Terkait perlunya pengawasan melekat dari pemerintah secara berkesinambungan pada BLM? Politisi Partai Pelopor ini sependapat dengan Sekkab Bulungan. ‘’Pengawasan itu perlu dilakukan, mengingat besarnya modal yang ditanam pemerintah di sana. Apalagi, dana-dana itu awalnya berasal dari uang rakyat Bulungan sendiri,’’ timpal Yans Ngau kepada BONGKAR!. Yans Ngau melihat, Pemkab Bulungan punya kewajiban mengembangkan dan memajukan satu-satunya pabrik pembekuan udang (cold storage) yang ada di Bulungan. Sebab, kehadiran pabrik ini sudah disebut mampu menyedot tenaga kerja, termasuk bisa memberdayakan masyarakat sekitar sebagai pengupas kepala udang. Di bagian lain, soal kesulitan BLM mendapatkan kredit perbankan, Yans Ngau menyatakan, kucuran dana kredit bukan satu-satunya solusi. Penjualan saham kepada masyarakat Kabupaten Bulungan yang berminat membeli merupakan langkah tepat. Satu terobosan go public yang akan langsung menambah permodalan yang dibutuhkan perusahaan. Contohnya, bila saham dimaksud dilempar ke pasaran dengan harga seratus ribu rupiah per lembar, dan seluruh PNS yang ada di Bulungan membeli saham, maka dalam waktu singkat saja bisa mencapai miliaran rupiah. ‘’Saya yakin masyarakat dan para anggota PNS yang di Bulungan akan berlomba-lomba membeli saham ini. Alasannya, selain demi kemajuan perusahaan daerah, mereka pula diuntungkan dengan pembelian saham tersebut, “ pungkas Yans Ngau. Yan Ngau mungkin benar. Terobosan menjadikan BLM sebagai perusahaan go public itu sangat brilian Tapi, terobosan itu harus diimbangi dengan pengelolaan manajemen yang benar-benar profesional, termasuk terobosan usaha yang selalu inovatif. Mudah-mudahan! *sahriansyah
|
|
| LAST_UPDATED2 |
Kekuatan yang sesungguhnya tidak datang karena yang kita miliki, tetapi datang dari yang kita lakukan. (Mario Teguh)








![]() | Hari ini | 209 |
![]() | bulan ini | 2760 |
![]() | Semua hari | 187864 |
| Home |
| Berita |
| Daerah |
| Parlementaria |
| Opini |
| Advertorial |
| Khas Kaltim |
| Redaksi |
| ITe I Inf Tekno |
EDISI 173: 16 Agustus 2010



