| Pasar Megah Terlantar |
|
|
|
| Ditulis oleh arya | |
| Sabtu, 18 Oktober 2008 12:50 | |
Idenya bagus; mendirikan pasar di kawasan Pasopati Tanjung Palas. Sayangnya sejak dibangun ada yang ditelantarkan. PANDAI membuat dan mengusulkan program pembangunan, tetapi tidak cerdas menghitung sisi manfaat. Begitulah nampaknya yang terjadi pada proyek pembangunan pasar di Kecamatan Tanjung Palas Bulungan. Pasar yang dibangun oleh pemerintah pada tahun 2004 silam dengan dana miliaran rupiah tersebut, ternyata hanya sempat dimanfaatkan untuk aktifitas jual beli dalam tempo hitungan bulan saja. Setelah itu, satu persatu para penjual yang menempati setiap los pasar tersebut ‘cabut’ satu demi satu, dengan alasan sepi karena kurangnya pembeli yang berbelanja di sana. Sepinya pembeli yang berbelanja di pasar tersebut dikarenakan minimnya dukungan pemerintah setempat. Misalnya membiarkan bebasnya para penjaja ikan dan penjual sayur mayur yang berjualan hampir disepanjang jalan Kasimuddin Tanjung Palas dengan memanfaatkan halaman rumahnya masing-masing menjadi penyebab utama masyarakat enggan berbelanja di sana. Ada perdagangan di situ membuat warga enggan ke pasar tersebut. Lantaran sudah tak memiliki aktifitas lagi dan seiring dengan berjalannya waktu, bangunan nan megah itu mulai dipreteli oleh tangan-tangan jahil yang tidak bertanggungjawab. Sehingga kini kondisi bangunan yang baru seumur jagung itupun kian menggenaskan. Bila saja bangunan pasar tersebut diibaratkan tubuh manusia kini kondisinya sudah nyaris tidak sempurna lagi. Hamper semua pintu dan lantai bangunan sudah raib dari tempatnya semula dipasang. Celakanya lagi, pemerintah kembali latah membangun sebuah pasar baru yang diberi nama ‘pasar agropolitan kawasan pasopati’ di Keluarahan Tanjung Palas Tengah, bukannya berupaya untuk memperbaiki sekaligus meramaikan pasar yang sudah ada tersebut. Memang secara konsep dengan dibangunnya pasar agropolitan ini setelah mulai difungsikan sudah tampak adanya kemajuan yang berarti. Aktifitasnya selalu ramai bahkan sangat banyak para peminat los yang tak kebagian tempat. Sehingga dengan sangat terpaksa mereka membangun tempat berjualan seadanya. Akibatnya bangunan yang dibangun dengan cara seadanya tersebut menciptakan kesan kumuh di pasar kebanggaan pemerintah tersebut. Terkait kekumuhan pasar Agropolitan itu sempat menuai kritikan dari wakil rakyat, misalnya Hj Ainun dari Partai Golkar, yangs mengatakan, bahwa dengan melihat kekumuhan pasar Agropolitan dikecamatan Tanjung Palas pemerintah sudah harus cepat tanggap membenahinya. Kumuhnya pasar Agropolitan Kecamatan Tanjung Palas mulai menuai sorotan dari DPRD Bulungan. Setidaknya, untuk mengatasi kekumuhan pasar tersebut pemerintah diimbau segera bergerak cepat untuk membenahinya. Bagaimana pemandangan pasar Agropolitan tersebut tidak kumuh kata Hj. Ainun Faridah lagi, Los atau sentra tempat para penjual sembako dan sayur mayur seperti yang terlihat sekarang ini, tampaknya hanya dibangun seadanya. Misalnya, atap bangunan dan dinding los pasar yang dibangun sendiri oleh masyarakat yang melakukan aktifitas penjualan tersebut seluruhnya terbuat dari daun nipah. Sehingga pasar yang standard untuk sebuah pasar diibukota kecamatan seperti di Kecamatan Tanjung Palas yang letaknya hanya berseberangan sungai dengan ibukota Kabupaten tersebut sangat-sangat ‘darurat’ sekali. Berulang-ulang Ainun mengatakan kala itu, penyebab timbulnya kekumuhan pasar terletak dari pada para penjual yang menempatinya. Mereka berlomba-lomba membangun los sendiri sebagai sentra tempat berjualan. Seperti bangunan pondok-pondok darurat, belum lagi jalan lingkar yang mengelilingi seluruh los yang ada. Bila musim hujan tiba jalan lingkar tersebut becek lantaran halaman yang digunakan hanya berupa tanah urugan. Sementara Syafarudin tokoh masyarakat Tanjung Palas lainnya mengatakan, bila melihat lebel pasar yaitu pasar Agropolitan hendaknya pemerintah segera mengembalikan kepada fungsinya. Tidak seperti kondisi sekarang ini, dimana pasar tersebut selain sebagai sentra tempat berjualan sayur mayur dan buah-buahan, juga sudah banyak terdapat penjual sembako, ikan dan daging. Walau demikian, lanjut Syafarudin lagi, bukan berarti di pasar tersebut tidak dibolehkan untuk berjualan barang lainnya. Minimal enam puluh persen hasil Agropolitan empat puluh persen barang jenis lainnya yang dijual di pasar kebanggan masyarakat Tanjung tersebut. Apalagi, sambung Syafarudin, bukan rahasia umum lagi Tanjung Palas saat ini gencar mempromosikan berbagai potensi objek wisatanya. Tentu dengan kumuhnya pasar Agropolitan yang posisinya persis berada ditepi jalan raya tersebut tidak menutup kemungkinan dilalui oleh para wisatawan, bisa membuat malu daerah. Sedangkan Budi, Ketua KNPI Tanjung Palas menilai, akibat munculnya banyak bangunan kumuh lantaran jumlah tempat yang tersedia tidak seimbang dengan jumlah masyarakat yang berminat. Akibat tidak tertampungnya para penjual tersebut menyebabkan mereka berlomba-lomba untuk membangun, walaupun bangunan yang dibuat hanya seadanya. oleh sebab itu pihaknya berharap agar pemerintah segera bergerak cepat untuk membenahinya. *
|
|
| LAST_UPDATED2 |
Kekuatan yang sesungguhnya tidak datang karena yang kita miliki, tetapi datang dari yang kita lakukan. (Mario Teguh)








![]() | Hari ini | 168 |
![]() | bulan ini | 2428 |
![]() | Semua hari | 187532 |
| Home |
| Berita |
| Daerah |
| Parlementaria |
| Opini |
| Advertorial |
| Khas Kaltim |
| Redaksi |
| ITe I Inf Tekno |
EDISI 173: 16 Agustus 2010



