|
Wah, 4 Calon KPUD Nunukan Bermasalah? |
|
|
|
|
Rabu, 24 Desember 2008 08:43 |
Menjelang detik-detik penetapan anggota Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Nunukan, muncul pengaduan bahwa diduga ada empat dari 10 nama yang lolos seleksi, bermasalah. |
|
Selanjutnya...
|
|
|
Senin, 15 Desember 2008 11:59 |
Aktifitas tambang galian C semakin marak dan merajalela di Nunukan, sehingga kerusakan lingkungan pun melebar dan sangat serius. KONDISI alam Nunukan yang terasa gersang semakin gersang saja. Itu disebabkan makin seriusnya kerusakan lingkungan yang terjadi. Tak hanya di beberapa daerah aliran sungai (DAS), melainkan kawasan hutan lindung (HL) pun sudah terkoyak sebagai akibat merajalelanya pertambangan tanpa izin, terutama tambang galian C seperti pasir dan batu cadas. Melihat ancaman itu, sejumlah LSM dan aktifis lingkungan di daerah ini menghendaki Pemkab Nunukan segera action menertibkan dan menghentikannya. Bahkan, Agus Mahesa, kordinator bagian ekonomi dan lingkungan MPC Pemuda Pancasila (PP) Nunukan, melihat ancaman kerusakan lingkungan Nunukan sudah sangat serius. Agus menuding Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Nunukan seperti ’macan ompong’. Tidak cepat tanggap terhadap maraknya aksi para penambang liar. Di mata Agus, Distamben hampir tidak pernah berupaya menghentikan atau mencegah penambangan tanpa izin itu. Ada apa ini? ’’Saya melihat sejumlah oknum pejabat di dinas itu terkesan bermain atau patut diduga ikut mengeruk keuntungan dari usaha itu,’’ ujarnya. |
|
Selanjutnya...
|
|
Hitung Ulang Cost Pesawat |
|
|
|
|
Senin, 15 Desember 2008 09:58 |
Penerbangan dari dan ke Nunukan – Krayan tetap berpolemik, kalau manajemen pengelolanya tidak serius dan harus berhitung ulang cost pesawat. MUNGKINKAH warga Krayan selamanya akan terisolir? Mungkin saja sepanjang ruas jalan darat dari dan ke Nunukan – Krayan belum tembus. Itu disebabkan lima pesawat yang melayani penerbangan Nunukan -- Krayan Induk dan Krayan Selatan tak bisa operasi maksimal. Terus diancam kerugian, dan nasibnya akan sama seperti pesawat DAS (Dirgantara Air Service) beberapa tahun silam. Hitung hitungannya, manajemen penerbangan menemukan adanya ketidaksinkronan antara biaya operasional dengan anggaran yang tersedia, terutama subsidi dari Pemkab Nunukan mau pun Pemprov Kaltim. Kondisi itu diungkap oleh Ramposo, pilot pesawat Airvan atau pesawat ’kura kura’ yang melayani rute Krayan Selatan – Krayan Induk – Nunukan, dalam suatu perbincangan dengan BONGKAR! |
|
Selanjutnya...
|
|
Genset Singkong Akal-akalan |
|
|
|
|
Senin, 15 Desember 2008 09:53 |
Satu lagi kasus dugaan pemborosan APBD Nunukan terkuak. Itulah proyek bantuan 12 unit genset untuk penggilingan singkong di Krayan Selatan yang dianggap mubazir. WARGA Krayan Selatan, Nunukan, mulai risau. Mereka memprotes tak pernah menerima bantuan berupa pengadaan 12 unit mesin listrik guna memudahkan operasional penggilingan singkong. Persoalannya, proyek pengadaan genset yang dilakukan oleh kantor Pembangunan Masyarakat Desa (PMD) Nunukan itu terkesan menjadi barang mubazir atau tak lebih sebagai proyek ‘akal akalan’. Kerisauan warga di daerah pedalaman dan perbatasan yang hanya bisa ditempuh dengan transportasi udara itu, lantaran 12 unit genset tersebut tidak bisa diangkut dengan pesawat berbadan kecil dari Nunukan. Artinya, kalau genset itu diangkut dengan pesawat kecil semacam Airvan atau sejenisnya, sangat tidak mungkin. Pasalnya, berat mesin itu sendiri mencapai tiga ton per unit atau baru bisa terangkat dengan 12 orang. |
|
Selanjutnya...
|
|
Bersitegang di HL Sebatik |
|
|
|
|
Senin, 15 Desember 2008 09:51 |
|
Warga Sebatik Barat nyaris bentrok dengan tim Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Nunukan, saat pemasangan papan plang di kawasan hutan lindung (HL) tersebut. KEINGINAN tim Dishutbun Nunukan memasang papan plang informasi atau tanda keberadaan hutan lindung (HL) di Sebatik Barat, membuat warga sekitar gusar. Mereka tersulut emosi, lantaran tim Dishutbun agak over acting dengan ‘main tancap’ saja, tanpa permisi atau memberitahu sebelumnya. Bahkan, Dishutbun terkesan menakuti warga dengan mengerahkan anggota Polres dan Satpol PP ke lokasi pemasangan. Kesan menakuti warga desa Setabu, Sebatik Barat yang tinggal di sekitar kawasan HL itu beralasan. Mereka menganggap, tim Dishutbun seharusnya tidak perlu mengerahkan sejumlah personel Polres Nunukan dan Satpol PP ke sana, kecuali cukup meminta bantuan aparat Polsek dan Satpol PP Sebatik Barat. Artinya, kalau memang anggota Polsek dan Satpol PP Sebatik Barat itu diminta bantuan, mereka pun siap membantu. Tapi, faktanya tidak demikian. Tim Dishutbun terkesan enggan memberdayakan aparat Polsek dan Satpol PP setempat. Padahal, fungsi tugasnya juga sama dengan anggota Polres dan Satpol PP di kabupaten. Celakanya lagi, tim Dishutbun pun dituding mengancam akan memenjarakan warga kalau menghalang halangi petugas memasang papan plang di sekitar kawasan HL ini. |
|
Selanjutnya...
|
|
|
|
|
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>
|
|
Halaman 5 dari 12 |