| Menunggu Runtuhnya Pasar Sungai Dama |
|
|
|
| Rabu, 11 November 2009 18:55 | |||
|
KEMACETAN lalu lintas selalu bersarang di perempatan jalan itu. Maju kena mundur pun kena. Belum lagi bau busuk menyengat dari dasar sungai akibat limbah pasar, dan kepulan asap knalpot kendaraan yang meraung-raung. Itulah wajah perempatan jalan Jembatan II – Otto Iskandardinata – Jelawat – dan Pesut yang masih menjadi potret buram Kota Samarinda sehari-hari. Tersumbatnya arus lalu lintas di empat penjuru jalan itu lantaran masih bercokolnya pasar Sungai Dama. Satu-satunya pasar tradisional di Samarinda yang belum dipindah dari kawasan jalur hijau. Dan, bagi warga yang tinggal di Kecamatan Samarinda Ilir seperti Sambutan, Sungai Kapih dan sekitarnya masih saja akrab dengan kondisi macam ini. Tak hanya polusi udara, tapi kemacetan yang luar biasa itu selalu terjadi hampir setiap saat. Pasar Sungai Dama sendiri terletak di ujung Jembatan II. Persis di pertigaan jalan Jelawat -- Otista (Tenggiri) -- Pesut. Pasar ini menjadi tempat warga sekitar berbelanja berbagai kebutuhan pokok. Sejak dulu atau jauh sebelum pasar Segiri dibangun, pasar Sungai Dama ini sudah ada. Sudah menjadi andalan warga untuk mendapatkan barang kebutuhan sehari-hari seperti sayur mayur, beras, ikan, peralatan dapur dan sebagainya. Tapi, seiring pesatnya pembangunan kota, rumah-rumah warga yang tadi bertengger di bantaran sungai Karang Mumus (SKM) -- termasuk pasar Sungai Dama – harus digusur dan mendapat penggantian dari Pemkot. Kawasan ini termasuk jalur hijau atau lebih dikenal dengan proyek kali bersih (Prokasih). Celakanya, ketika rumah-rumah warga sudah tergusur, pasar yang berdiri sejak tahun 70-an itu belum digusur juga. “Rencananya pasar itu memang mau digusur, tapi sampai sekarang belum terlaksana juga,” ucap warga di sana. Keberadaan pasar Sungai Dama seolah menjadi momok yang menjijikkan bagi sebagian warga. Lingkungannya terlihat kotor, semrawut, dan sangat merusak keindahan penataan kota. Terlebih di jalan Jelawatnya sendiri – terutama di jalur hijau yang sudah selesai dibuat sheet file (turap) – juga sudah berubah menjadi pasar. Maka, kawasan pasar Sungai Dama ini seolah klop sebagai kawasan yang paling semrawut dan sangat mendesak direlokasi. Kondisi bangunan pasar sendiri sudah miring, seolah mau roboh. Atap-atap sengnya juga sudah usang. Tidak beraturan, dan di atas atap yang sejajar dengan badan Jembatan II itu banyak pula terdapat timbunan sampah. Sedang lantai dua bangunan pasar juga sudah kosong karena seluruh bangunannya sudah rusak. Walau begitu, para pedagang masih menggunakan lantai dasar sebagai wadah berjualan sekali pun kondisinya juga sudah lapuk. Mereka seolah tidak kuatir dengan bangunan pasar yang sudah miring dan sewaktu-waktu bisa runtuh karena sudah termakan usia. Haruskah bangunan ini dibiarkan sampai menunggu seruntuh-runtuhnya baru dipindahkan? Ada memang pemandangan lain di sekitar ini. Ketika SKM surut, maka kondisi airnya berubah warna menjadi hitam bak comberan dan berbau. Itu disebabkan air SKM ini sudah terkontaminasi beragam limbah rumah tangga, sampah, tinja dan B3 (bahan beracun dan berbahaya). Tapi, ketika itu ada saja pria paruh baya yang melemparkan sebuah ember kecil terikat tali ke sungai. Ia yang diketahui pedagang ikan di pasar itu cuek mengambil air yang keruh kehitaman untuk mencuci ikan-ikan mereka. Di bagian lain, Sukarya, pedagang sayur-mayur di pasar itu ketika disambangi BONGKAR! mengaku sudah mengetahui rencana penggusuran pasar Sungai Dama. Rencana itu sudah lama, tapi belum terlaksana. “Pasar ini nantinya akan dipindahkan ke lokasi eks perumahan asrama polisi di Jalan Otista. Di sanalah, pasar baru Sungai Dama berdiri. Sekarang, bangunan pasar itu sudah hampir rampung, malah sudah ada yang jualan di sana,” jelasnya. Kenapa Anda tidak ikut pindah ke sana.? “Itulah permasalahannya, mengapa kami masih tetap memilih berjualan di sini. Bukan kami tidak mau dipindahkan, tapi karena harga setiap petak lokasi pasar yang baru terlalu mahal, Rp 60 juta per petak. Terus terang kita tidak sanggup membayarnya,” timpal Sukarya yang mengaku berjualan di sana sejak tahun 1977. Bagaimana Dinas Pasar Kota Samarinda sendiri? Robby Hartono yang menjadi Kepala Dinas Pasar ketika dikonfirmasi BONGKAR! mengaku, rencana penggusuran pasar Sungai Dama sedang dalam proses. Masih menunggu bangunan lokasi pasar baru di bekas asrama polisi itu. “Mungkin tidak lama lagi kita sudah bisa membongkar bangunan pasar Sungai Dama itu,” ujar Robby. Disambangi BONGKAR! di kamar kerjanya hari Rabu itu, 28 Oktober 2009, mantan Kadis Pariwisata Kota Samarinda ini tidak menampik adanya sejumlah petak di lahan baru yang ditawarkan ke pedagang dengan harga Rp 60 juta per petak. “Petak yang ditawarkan ke pedagang ini memang ada yang dikelola swasta dengan biaya sendiri. Jadi, mungkin yang dimaksud para pedagang itu petak milik swasta,” jelas Robby. Ia menguraikan, pasar baru Sungai Dama memang sebagian dikelola pihak swasta dengan dana sendiri, dan sebagian lagi dikelola Pemkot dengan dana subsidi Pemprov senilai Rp 1,9 miliar. Pria macho berkepala plontos ini juga mengatakan sebenarnya tidak ada masalah dengan penggusuran pasar Sungai Dama, mereka malah justru mempertanyakan kapan mereka sebenarnya akan dipindahkan ke lokasi pasar yang baru,” ujar Robby mengakhiri perbincangannya dengan BONGKAR!. Masih ada cerita menarik di sana. Sekali pun bangunan itu sudah tidak layak lagi untuk ditempati, tapi masih ada saja warga yang berani menyewa tempat itu sebagai wadah usaha mereka. Sebagian ruko-ruko pasar Sungai Dama yang berada di depan jalan ternyata sudah ditinggalkan pemiliknya ke lokasi yang baru. Warga kemudian memanfaatkan tempat itu untuk berjualan. Bu Marni misalnya, mengaku nekat menyewa tempat itu untuk membuka usaha jualan soto Makassar. Perempuan asal Sulawesi ini mengaku baru dua minggu membuka usahanya. Marni mengatakan, ruko itu ia sewa Rp 2 juta per tahun. “Awalnya, tempat ini tidak bisa digunakan, karena banyak sampah dan plafonnya juga sudah pada rusak. Karena itu, saya terpaksa mencari tukang untuk memperbaiki dan mengganti plafon yang sudah jabuk. Kalau dihitung-hitung sama saja saya menyewa tempat ini Rp 3 juta, karena harus ditambah membayar ongkos tukang dan membeli bahan Rp 1 juta,” ujar Marni. Apakah yang lain juga menyewa tempat ini? “Saya dengar begitu, tempat di sini ada yang disewakan Rp 4 juta per tahun, tergantung dari besarnya ruangan dan kondisi tempatnya,” sebut Marni yang mengaku memilih tempat itu karena harganya yang murah dan letaknya strategis. Terlepas dari segala bentuk aktivitas para pedagang dan pembeli di pasar Sungai Dama, masyarakat luas yang hari-hari memanfaatkan Jembatan II dan sekitarnya untuk arus transportasi mereka yang jelas sudah sangat jengah. Terutama terhadap macet dan polusi udaranya. Masyarakat berharap seluruh pihak terkait bertindak cepat dan tepat, demi menciptakan kenyamanan pengguna jalan yang sudah tersiksa bertahun-tahun. “Saya berencana menjual rumah saya di Sambutan. Nggak tahan dengan kemacetan di Sungai Dama. Capek rasanya hari-hari mengantar anak sekolah dengan kondisi macet begitu,” terang Emil, salah seorang warga perumahan Sambutan Permai, Sambutan.*ibnu
|
Kekuatan yang sesungguhnya tidak datang karena yang kita miliki, tetapi datang dari yang kita lakukan. (Mario Teguh)








![]() | Hari ini | 219 |
![]() | bulan ini | 2770 |
![]() | Semua hari | 187874 |
| Home |
| Berita |
| Daerah |
| Parlementaria |
| Opini |
| Advertorial |
| Khas Kaltim |
| Redaksi |
| ITe I Inf Tekno |
EDISI 173: 16 Agustus 2010



