| Kasus Antasari di media Inggris | Array Cetak Array |
| Rabu, 21 Oktober 2009 20:38 | |||
Ada yang mengatakan kalau warga Indonesia terpaku di depan TV menyaksikan perkembangan kasus penyelidikan Ketua KPK Antasar Azhar.Liputan itu, katanya lagi, lengkap dengan gambar dia mengenakan celana piyama maupun istrinya yang besuk sambil membawa kasur dan kipas angin. Yang mengatakan itu bukan teman saya yang bercerita lewat telepon atau email tapi Kathy Marks, koresponden The Independent untuk kawasan Asia Pasific. Dia menulis berita dengan judul 'Kepala Anti Korupsi ditahan sehubungan dengan pembunuhan persaingan cinta.
Berita tentang penetapan Antasari jadi tersangka menjadi berita di sejumlah media Inggris pekan ini, cetak maupun BBC online. Sama dengan The Independent, koran The Daily Telegraph juga menulis persaingan cinta di judulnya, sedangkan The Times hanya menggunakan kasus pembunuhan saja. BBC Online lebih hati-hati lagi dengan judul 'Ketua anti korupsi ditahan.' Saya juga menelusuri satu dua koran kuning, tapi tak ketemu. Bisa jadi cerita tentang pembunuhan seorang direktur perusahaan negara di seberang lautan walaupun dengan tersangka pejabat tinggi dan perwira menengah kepolisian masih kalah seru dengan berita pembunuhan atau skandal percintaan di tanah Inggris.
Kecepatan mediaJelas peliputan media Inggris tentang penetapan Antasari sebagai tersangka itu terlambat dibanding media-media Indonesia, yang sudah meliput habis sejak pekan lalu ketika masih baru terdengar kabar burung tentang kemungkinan kaitan Antasari dengan pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen. Lewat internet saya menyaksikan setidaknya 2 siaran TV yang mengutip pengacara keluarga Nasrudin yang sudah menyebut Ketua KPK dalam SMS yang pernah diterima mendiang Nasrudin. Atau sebuah siaran TV yang membuat diagram tentang cinta segitiga walau tidak menyebut nama yang terlibat, kecuali korban Nasrudin Zulkaranaen. Apakah wartawan Indonesia bisa dibilang lebih hebat dari polisi? Pemeriksaan sedang berlangsung, motif pembunuhan sudah bisa diketahui media, begitu juga tersangkanya padahal ketika itu Antasari baru mendapat surat panggilan polisi. Baru Senin pekan ini, Antasari sebenarnya menjadi tersangka, dan tetap saja dia masih terlindungi oleh praduga tak bersalah.
Terikat aturan ketatMemang media Inggris terikat peraturan ketat jika meliput sebuah peristiwa kriminal atau hukum, untuk memastikan orang yang sedang diperiksa mendapat pengadilan yang adil dan jujur atau tidak sampai tercemar namanya. Di Inggris ada kasus seorang pria, Robert Murat, yang merasa namanya tercemar karena pernah diperiksa polisi sehubungan dengan hilangnya seorang anak perempuan Madeleine McCann di kawasan wisata di sebuah kawasan wisata di Portugal. Menurutnya pemberitaan surat kabar Inggris atas pemeriksaannya sudah melewati kewajaran dan dia menuntut 11 surat kabar Inggris dan pengadilan berpihak padanya. Semua koran yang dia tuntut harus membayar ganti rugi dan Murat total mendapat £ 600.000 Poundsterling atau sekitar Rp 9 milyar. Kasus kemenangan Murat atas pemberitaan media ini jelas bukan satu-satunya di Inggris, dan ada juga kasus yang kemudian dikalahkan pengadilan karena jelas tak semua peliputan tentang seorang tersangka akan langsung diputuskan menjadi pencemaran nama baik. Jelas saya tidak berani memutuskan bahwa peliputan media di Indonesia tentang para tersangka dalam pembunuhan Nasrudin berlebihan. Tapi jelas saya berani mengatakan bahwa kasus itu memang menarik, lha media Inggris saja sampai memuatnya. Cuma saja masalah memberitakan yang menarik secara benar memang tidak selalu mudah.** bbc.indo
|

Kekuatan yang sesungguhnya tidak datang karena yang kita miliki, tetapi datang dari yang kita lakukan. (Mario Teguh)








![]() | Hari ini | 189 |
![]() | bulan ini | 1204 |
![]() | Semua hari | 186308 |
| Home |
| Berita |
| Daerah |
| Parlementaria |
| Opini |
| Advertorial |
| Khas Kaltim |
| Redaksi |
| ITe I Inf Tekno |
EDISI 173: 16 Agustus 2010



