Majalah Bongkar Edisi Web Site

Saturday
Sep 04th
Home Berita Lingkungan Menyeriusi Pencemaran Lingkungan
Menyeriusi Pencemaran Lingkungan PDF  Array Cetak Array  E-mail
Sabtu, 12 Desember 2009 13:17

DPRD Malinau menyikapi serius kasus dugaan pencemaran lingkungan yang dilakukan perusahaan tambang batubara di Malinau Selatan.

 

SEBELAS November 2009 itu merupakan  hari perdana  semua  anggota DPRD Malinau ‘turun gunung’.  Hari pertama mereka bertatap muka dengan masyarakat di  daerah pedalaman dan perbatasan. Maklum, sejak dilantik menjadi wakil rakyat bulan Agustus 2009 lalu,  baru kali ini mereka  bisa melakukan  kunjungan  ke daerah-daerah  seperti yang dilakoni Ketua DPRD Malinau, Pdt Marthen Labo dkk ke Kecamatan Mentarang.

Marthen Labo yang politisi  Partai Golkar itu turun ke Mentarang bersama anggota lainnya. Antara lain Lewi Udan (PDI-P), Ronald A Wenur (Partai Demokrat), dan Sikal Perminas (Gerindra). Kehadiran mereka disambut gembira Camat Mentarang, Marson L Langup yang sekaligus menggelar  pertemuan di Aula Kecamatan.  Pertemuannya cukup menarik dan penuh keakraban.  Tak hanya dihadiri para  kepala desa, kepala adat, tokoh masyarakat dan pemuda, tapi terkuak pula persoalan pembangunan yang perlu disikapi wakil rakyat ini.

Labo merasa gembira bisa bertatap muka langsung dengan warga. “Kami  ke sini bukan hanya sekadar kunjungan kerja,  tapi kami akan mengevaluasi sejauh mana keberhasilan proyek  pembangunan tahun 2009. Kami juga  ingin  menjaring aspirasi masyarakat  berkaitan dengan  penyusunan RAPBD (Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah)  tahun 2010,”  ujarnya.

Ia menyebut,  dari sekian banyak proyek yang diusulkan  masyarakat, tidak semuanya bisa diakomodir. Harus dilihat dulu  mana yang masuk skala prioritas atau tidak.  “Kalau usulan masyarakat  memang masuk skala prioritas  atau sifatnya mendasar dan mendesak,  kami akan perjuangkan agar diakomodir pada APBD 2010,” timpalnya  dalam pertemuan yang juga dihadiri unsur Muspika Mentarang itu.

Warga sendiri tak sungkan-sungkan memanfaatkan  pertemuan empat jam ini. Mereka pun ‘curhat’  tentang berbagai kebutuhan dasar yang belum teratasi. Antara lain  fasilitas air bersih,   dan jembatan gantung antara Desa Pulau Sapi --  Mentarang Baru yang kondisinya menguatirkan,  termasuk akses-akses jalan menuju sentral pertanian.  Tak heran kalau Marthen Labo pun seolah terenyuh,  dan  menyatakan,  timnya akan mendesak pemerintah untuk  segera merealisasikannya.

Persoalan utama yang mengemuka soal air bersih.  Persoalan ini dipandang sangat  mendesak untuk segera diatasi.  Ihwal sulitnya warga  mendapatkan air ini, urai Kades  Pulau Sapi,  Albert Bina, lantaran lingkungan alam sekitar ditengarai sudah  tercemar akibat limbah  perusahaan tambang batubara. “Perusahaan batubara di hulu sungai Malinau itu diduga sudah mencemarkan lingkungan sekitar, sehingga warga sangat kesulitan mendapatkan air,” ucap Albert Bina.

Albert dan warga lainnya berharap ke para wakil rakyat,  Pemkab dan aparat penegak hukum segera bersikap. Bisa menindak PT Kayan Putra Utama Coal (KPUC) dan PT Bara Dinamika Muda Sukses (BDMS) yang mengeksploitasi tambang batubara tanpa memperhatikan lingkungan. Akibatnya,  air sungai Malinau yang sebelumnya dikonsumsi warga  untuk minum, mandi dan cuci menjadi keruh. “Warga kami  tak hanya krisis air bersih, tapi mengalami gatal-gatal pada kulit, diare serta batuk pilek,” timpal  Kades Pulau Sapi itu.

Dulu, urainya lagi, sebelum  perusahaan batubara beroperasi, warga tak pernah kesulitan air bersih untuk MCK.  Tapi, semenjak perusahaan tambang ini  beroperasi di bagian hulu sungai Malinau, airnya menjadi tercemar dan sangat keruh. “Kalau persoalan ini tidak segera ditanggapi oleh Pemkab,  kami masyarakat akan angkat bicara,” tandasnya seperti terkesan sudah siap mengerahkan massa untuk melakukan aksi demo.

Sejauh ini belum didapat reaksi Pemkab dan aparat penegak hukum terkait persoalan ini. Tapi, Marthen Labo menggaris bawahi, dewan sendiri akan berupaya menyelaraskan permintaan warga dengan apa yang dirancangkan dalam program pembangunan tahun 2010 mendatang. “Soal dugaan  pencemaran lingkungan itu,  mari kita sama-sama berjuang. Selaku  wakil rakyat, kami segera memanggil  pihak-pihak terkait – perusahaan, Pemkab dan dinas teknisnya   -- untuk duduk bersama memecahkan permasalahan ini,” janji Marthen Labo dengan nada serius sambil disambut aplaus warga. *david arman

 

 

BONGKAR! Magazine on Facebook

Kutipan

 

 

 Kekuatan yang sesungguhnya tidak datang karena yang kita miliki, tetapi datang dari yang kita lakukan. (Mario Teguh)

Advs

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini241
mod_vvisit_counterbulan ini1256
mod_vvisit_counterSemua hari186360

Polling Cawali dan wawali Samarinda

Siapa pilihan Anda, calon Walikota dan Wawali Samarinda periode 2010-2015?
 

Edisi Cetak

EDISI 173: 16 Agustus 2010

Khas Kaltim





Cerita Khas Johansyah Balham

Aji Raden Serif

Selengkapnya...

 

Buku membongkar gurita cikeas

Download di sini


Cover Edisi 169














Edisi 169: 19 Juli 2010

Cover Edisi 170














Edisi 170:
26 Juli 2010

Cover Edisi 171














Edisi
171: 2 Agustus 2010

Cover Edisi 172














Edisi 172: 2 Agustus 2010

Cover Edisi 173














Edisi 173: 16 Agustus  2010