| Berburu Jepretan Klasik di TNK | Array Cetak Array |
| Rabu, 03 Februari 2010 15:27 | |||
|
SIAPA yang tak terpesona dengan keindahan Taman Nasional Kutai (TNK)? Potensi cagar alam berikut kekayaan flora dan faunanya yang sebagian tercabik-cabik itu seolah masih mampu membius para peserta lomba Adventure Rally Photo, yang difokuskan di kawasan TNK, di daerah Sangkima, Kutai Timur. Lomba petualangan menjepret atau mengambil foto hari Minggu itu, 10 Januari 2010, cukup melelahkan peserta, tapi terasa sangat mengasyikkan pula. Jumlah pesertanya 110 orang. Mereka berasal dari berbagai kota dan kabupaten di Kaltim seperti dari Bontang, Sengata, Tenggarong, dan Samarinda itu. Secara khusus mereka berburu keahlian menjepret dengan kamera guna mendapatkan foto-foto klasik yang dinilai terbaik. Upaya ini sebagai bagian mendukung kampanye pelestarian kawasan hutan TNK dengan tema -- “Cintai TNK, Selamatkan TNK”! Cukup menarik memang tema yang diambil panitia. Maklum, sebagian kawasan hutan alam yang terletak di ruas jalan Bontang – Sengata itu sudah rusak terkoyak-koyak akibat kerakusan oknum-oknum tak bertanggungjawab. Lingkungan TNK mau tak mau harus diselamatkan dari berbagai tekanan. Tak heran pula, kalau sebelum peserta memasuki arena lomba, Panpel pun harus membagikan nomor dan peta kawasan hutan TNK agar peserta jangan sampai tersesat. Syarat ini mutlak bagi peserta. Harus dilalui sampai di pos yang sudah ditentukan oleh panitia, dan wajib mengisi daftar hadir untuk melanjutkan perjalanan. “Sebelumnya kita juga sudah menginformasikan ke peserta tentang medan berat di hutan TNK yang naik turun perbukitan. Melewati jembatan kayu yang panjang, lintasan licin, termasuk pohon berduri. “Kondisi ini menjadi tantangan para peserta untuk melewatinya,” timpal Agus seraya menjelaskan, .para peserta sendiri tidak perlu kuatir karena ada tim SAR yang siaga di lokasi TNK. Di bagian lain, .Eko Satiya Hushada dari PT Esa Communication (Escomm) mengaku, kegiatan ini ditujukan untuk mengampanyekan ke masyarakat untuk menjaga dari sekarang hutan TNK sebagai aset alam kebanggaan Kaltim. “Kami sebagai pihak konsultan penyelenggara menghendaki agar kawasan hutan TNK jangan tinggal kenangan. Sebab, kawasan hutan TNK ini tidak sekadar tempat berkembang biaknya flora dan fauna yang dilindungi, tapi juga penyokong keberlangsungan hidup manusia, “ ujarnya. Tak ketinggalan hadiah untuk para pemenang lomba Adventure Rally Photo ini sendiri. Juara I mendapat hadiah Rp 5 juta, juara II Rp 3 juta, dan juara III sebesar Rp 2 juta. Kegiatan ini sendiri terselenggara atas kerja sama Departemen Kehutanan, TNK, Pemkot Bontang, dan Indosat. Sejauh ini kondisi TNK semakin menguatirkan. Selain rusak akibat kegiatan manusia berupa pemukiman dan pembukaan lahan untuk berladang, juga kegiatan pembalakan liar dan perburuan. Kondisi ini tak hanya berdampak pada luluhlantaknya ekosistem di TNK, tapi berdampak pula kepada kehidupan manusia secara luas. Artinya, kalau fungsi TNK tidak diselamatkan, kota Bontang dan Sengata, Kutai Timur, terancam terhapus dari peta, atau dengan kata lain musnahnya sebuah peradaban. Melihat situasi yang semakin mengkhawatirkan ini, Balai TNK didukung oleh para mitranya, merancang sebuah kampanye komunikasi terpadu. Tujuannya antara lain membangun rasa cinta warga terhadap TNK. Dengan cinta, masyarakat diajak bersama-sama mengambil langkah penyelamatan terhadap TNK. Kepala Balai TNK sendiri, Tandya Tjahjana mengaku, kampanye ini dinilai perlu untuk membangun pemahaman kepada masyarakat. Terutama masyarakat kota Bontang dan Sengata, termasuk masyarakat Kaltim pada umumnya agar betapa pentingnya fungsi TNK terhadap keberlangsungan kehidupan manusia. ”Selama ini, jika kita mengajak masyarakat untuk tidak merusak TNK, masyarakat mengira hanya untuk menjaga keberlangsungan hidup flora dan faunanya saja. Padahal, kawasan TNK dijaga untuk juga mencegah bencana yang lebih besar,” ucap Tandya Tjahjana. Masuknya sejumlah binatang liar dari TNK ke perkampungan masyarakat, termasuk munculnya kasus buaya makan orang, urai Tandya, jangan dilihat hanya sebatas pada ’nakalnya’ binatang-binatang liar itu. Tapi, harus dipahami kalau binatang buas itu ’turun kampung’ dan makan orang, karena tempat makanan mereka di TNK sudah habis akibat ulah manusia sendiri yang melakukan kegiatan ilegal di sana. ”Ini yang disebut dengan kerusakan ekosistem,” imbuhnya. Begitu juga halnya dengan banjir yang menjadi langganan di kota Bontang maupun Sengata. Ia menyebut, bencana banjir itu sebagai dampak dari kerusakan kawasan TNK. Jika kerusakan TNK terus berlangsung, maka bencana yang lebih besar pun bakal terjadi. ”Sekarang banjir semakin tidak terkendali, besok dan besok, banjir akan semakin besar. Solusinya harus ada penyelematan TNK. Ayo kita cintai TNK. Dan, mencintai TNK, dengan kesungguhan hati merawatnya secara bersama-sama demi menyelamatkan keberlangsungan hidup kita sendiri,” tandasnya. Ia pun menambahkan, salah satu dampak kerusakan TNK yang sudah ’dinikmati’ masyarakat Bontang -- Sengata adalah menurunnya kualitas air minum dari air bawah tanah. Penurunan kualitas air minum ini tentu akan berdampak pada kesehatan masyarakat, hingga pada saatnya nanti pengelolaan air bawah tanah yang bersumber dari TNK akan tidak lagi bisa dikonsumsi. ”Melihat realita ini, Balai TNK mengambil langkah penyelamatan segera, dengan melibatkan masyarakat luas. Bagaimana pun untuk menjaga dan merawat TNK mustahil berhasil jika tidak melibatkan masyarakat, dan kami sudah memulainya,” urai Tandya mengakhiri perbincangan. ** Tri Wahyuni Asmoro
|
Kekuatan yang sesungguhnya tidak datang karena yang kita miliki, tetapi datang dari yang kita lakukan. (Mario Teguh)







![]() | Hari ini | 73 |
![]() | bulan ini | 2865 |
![]() | Semua hari | 131195 |
| Home |
| Berita |
| Daerah |
| Parlementaria |
| Opini |
| Advertorial |
| Khas Kaltim |
| Redaksi |
| ITe I Inf Tekno |
EDISI 150: 22 Pebruari 2010



