| Pembekuan Perusda Kukar | Array Cetak Array |
| Sabtu, 12 Desember 2009 13:29 | |||
|
Selama hampir 10 tahun berdiri, Perusda TP memang tak pernah memberikan pemasukan ke daerah. Malah, jenis usaha yang dikembangkan Perusda itu pun tidak jelas. Padahal, Perusda ini sudah mendapat suntikan dana dari APBD Kukar bermiliar-miliar rupiah. Tak heran, kalau keberadaan Perusda TP ini hanya membebani APBD Kukar saja. Kesan itu tak terlalu mengada-ada. Selama lima tahun Perusda TP yang ‘dinakhodai’ Dahri Yasin itu, selalu mendapat subsidi dari APBD Kukar. Karena itu, Pemkab akhirnya membekukan Perusda ini. “Setahu saya, miliaran rupiah anggaran Kukar amblas untuk membiayai Perusda TP. Tapi, hasilnya masih nol sen, dan TP hanya tinggal papan nama,” ucap Syahranie, salah satu pengusaha yang juga anggota DPRD di Kukar. Syahranie menghendaki, Perusda TP ini sebaiknya dihidupkan kembali dengan konsep dan manajemen baru. Jangan terkesan dibiarkan ambruk seambruk-ambruknya tanpa adanya satu upaya atau terobosan usaha untuk membangkitkannya. Kenapa Perusda TP ini tak berjalan seperti diharapkan? Banyak tudingan kalau Perusda ini tidak dikelola secara profesional oleh orang yang bukan ahlinya. Pengelolanya bukan berjiwa bisnis, kecuali lebih bersifat politis. Benarkah begitu? Dirut Perusda TP sendiri, Dahri Yasin, menampik anggapan itu. Ia menyebut, tidak benar Perusda TP itu salah kelola. “Begini, Perusda TP ketika saya kelola tidak memiliki aset apa-apa. Aset yang ada tidak diserahkan ke Perusda, sehingga apa yang harus dikelola dan apa yang mesti dijalankan kalau aset yang dipegang tidak ada,” ujar Dahri Yasin dalam suatu perbincangan dengan BONGKAR! Dahri mengakui, konsep awal pendirian Perusda TP atas ide Syaukani HR sewaktu menjadi Bupati Kukar 1999 – 2004. Tujuannya untuk mengelola aset-aset daerah seperti obyek wisata Pulau Kumala dengan sarana dan prasarananya, Hotel Singgasana dan Hotel Lesung Batu di Tenggarong, termasuk RPU (Rice Processing Unit) dan Planetratium Pendidikan. Namun, aset-aset daerah itu tidak diserahkan ke TP untuk dikelola. Dahri pun mengaku kecewa. “Apa yang bisa dibuat TP kalau aset daerah itu tidak dipercayakan ke Perusda TP,” ucap Dahri seraya membenarkan, Perusda ini resmi dibekukan sejak Juli 2005, karena Pemkab melihat Perusda TP tidak bergerak alias vakum. Pemkab pun membekukan kepengurusan TP. Bagaimana kelangsungannya? Sekkab Kukar sendiri, Ajie Harianto Bahroel mengaku, sampai sekarang belum ada kepengurusan baru untuk perusda ini. Bahroel pun mengaku tidak tahu berapa nilai APBD yang terserap ke Perusda TP. “Boleh jadi kalau nilainya miliaran rupiah. Tapi, saya tidak tahu persis soal dana Perusda TP dan untuk apa saja dana itu, saya juga tidak tahu,” katanya. Tadinya, aku Bahroel, ada memang rencana menghidupkan kembali Perusda TP. Malah, ada beberapa nama yang sudah diseleksi untuk mengurus TP. Namun, belakangan figur-figur itu mundur satu-satu tanpa alasan jelas. Sedang yang bertahan dianggap kurang memiliki kemampuan mengurus Perusda ini. Di bagian lain terkait pengelolaan aset-aset daerah yang tadinya akan dikelola Perusda TP, berjalan sendiri-sendiri dan tetap terus disubsidi. Tapi, karena dianggap tidak bisa memberikan kontribusi ke daerah, aset-aset itu dipercayakan pengelolaannya ke pihak swasta. Mulai 2010 ini, katanya, aset daerah seperti Hotel Singgasana, Lesung Batu, obyek wisata Pulau Kumala dikelola swasta dengan cara bagi hasil selama 5 tahun kontrak kerja sama. *fahran
|
Kekuatan yang sesungguhnya tidak datang karena yang kita miliki, tetapi datang dari yang kita lakukan. (Mario Teguh)







![]() | Hari ini | 15 |
![]() | bulan ini | 2307 |
![]() | Semua hari | 130638 |
| Home |
| Berita |
| Daerah |
| Parlementaria |
| Opini |
| Advertorial |
| Khas Kaltim |
| Redaksi |
| ITe I Inf Tekno |
EDISI 150: 22 Pebruari 2010



