| Gedung ’Mati’ di Palaran | Array Cetak Array |
| Rabu, 30 Desember 2009 12:16 | |||
|
HARI sangat cerah ketika suatu pagi Masri Hadi, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kaltim meluncur ke Komplek Stadion Utama Palaran bersama rombongan kecil dari Jakarta. Di sana ada Rosiana Tendean (mantan atlet bulutangkis nasional) dan Sudarsono Gunawan (mantan wartawan olahraga di Jakarta yang sekarang menjadi pengusaha), Haji Rusdi Banjar (pengusaha event organizer) dan Charles Siahaan (Pemred Majalah BONGKAR!). ”Sekarang semua ini kami yang mengelola. Semua fasilitas yang ada, mulai stadion Sempaja, hotel atlet sampai stadion utama, harus bisa menguntungkan,” ujar Masri yang nampak bersemangat membawa rombongan mengitari venus-venus di sana. Dari keterangan Masri sudah jelas kalau venus-venus itu – termasuk hotel atlet - kini membutuhkan ’pertolongan’. Terutama pihak ketiga yang serius mengelola dan menghasilkan profit. Rosiana Tendean sempat terperanjat menyaksikan lapangan bulutangkis yang sudah berstandard internasional. ”Usai PON, apa lagi?” tanya Sudarsono Gunawan. Pertanyaan itu serasa menyentak, sekaligus menggugat. Masri pun menantang tamu-tamunya untuk memanfaatkan semua fasilitas dengan menyelenggarakan even-even nasional maupun internasional di daerah ini. ”Kita mau mengkomersialkan semua fasilitas ini, sambil juga mencetak atlet-atlet tangguh,” ujar Masri. Komplek Stadion Utama Palaran memang terlihat megah. Mulai pintu gerbang masuk, sudah terasa kalau kawasan itu bisa diandalkan untuk menyelenggarakan even nasional bahkan internasional. Jalan menuju komplek cukup luas, ditambah dengan venus-venus outdoor dan ruang-ruang parkir. Selain lapangan sepakbola berkapasitas 50 ribu penonton, ada juga GOR bulutangkis dan GOR serbaguna untuk senam dan cabang lainnya. Kemudian lapangan tenis outdoor, lapangan baseball, arena sepatu roda serta kolam renang untuk polo air dan loncat indah. Dana pembangunan venus-venus itu, termasuk juga komplek Stadionmadya Sempaja sekitar Rp2 Triliun. Sejak tahun 2005 silam sudah dimulai pembangunannya, dengan mengabaikan suara pro kontra yang terjadi waktu itu. Para penentang sudah memprediksi bakal ’terbengkalainya’ venus-venus tersebut setelah perhelatan PON dilaksanakan. Sementara pemerintah wajib pula mengeluarkan anggaran untuk perawatan yang nilainya ditaksir miliaran rupiah setiap tahun. ”Saya menentang keras pembangunan stadion itu. Terlalu dipaksakan, karena pada akhirnya kita harus merawat lagi dengan biaya besar,” kata Imam Munjiat, anggota DPRD Kaltim dari PDI Perjuangan periode 2004-2009, ketika itu. Pertarungan opini memang akhirnya dimenangkan kubu pemerintah yang telah bertekad menyukseskan tersenggelaranya PON. Alasannya sederhana, kapan lagi Kaltim dipandang sebagai daerah maju. Rupanya ukuran maju sebuah daerah masih diidentikkan dari kemampuan menyelenggarakan PON. So, Masri Hadi yang sekarang menjabat Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kaltim mengakui justru menerima tantangan itu. ”Kami harus kerja keras agar prestasi olahraga meningkat, sekaligus venus-venus di sini bisa bermanfaat,” ujarnya. Langkah awal yang dibuatnya adalah membangun sekolah olahraga yang telah mendapat persetujuan berbagai pihak. Kerja keras Masri, nampaknya beriringan dengan grand strategi pembangunan sumber daya manusia di Kaltim. Yakni memprioritaskan pendidikan, dengan mengalokasikan 20 persen dana APBD. Hanya saja, sejauh ini kok rasanya belum ada blue print berisikan apa-apa saja target yang ingin dicapai bidang pemuda dan olahraga. Kalau bicara prestasi, Kaltim tergolong sudah punya raport bagus karena tampil menjadi tiga besar pada PON XVII bulan Juli 2008 lalu, setelah Jatim sebagai juara umum dan DKI Jaya di tempat kedua. Itu adalah sejarah prestasi terbaik daerah ini, lantaran didukung sebagai tuan rumah. Persoalannya, dari ratusan atlet yang diterjunkan pada PON tersebut jumlah terbesar bukan atlet lokal, tapi hasil order alias ’beli’ stok atlet nasional. Tentu saja tidak sedikit biaya yang dikeluarkan Kaltim untuk mengejar predikat membanggakan itu. Mulai dana transfer, gaji sampai bonus ratusan juta untuk medali emas yang diperolehnya. Ada istilah yang akrab bagi warga di sini; ”biar tekor asal kesohor”. Harapannya, para atlet nasional yang direkrut jadi atlet Kaltim bisa memberikan spirit bagi atlet lokal. Tapi nyatanya semua atlet-atlet itu sudah hengkang alias pulang kampung lagi, usai mempersembahkan medali ke daerah ini pada PON tadi. Memang ada juga perhatian dari KONI pusat untuk menjadikan Kaltim sebagai Pelatnas beberapa even. Misalnya sepakbola (PSSI) yang sempat beberapa bulan latihan di Stadion Sempaja. Kemudian Pelatnas Gulat, yang memang jadi andalan Kaltim tiap kali ada kejuaraan nasional. Untuk mengelola semua venus olahraga di Samarinda, memang tidak langsung oleh kantor Dinas Pemuda dan Olahraga. Pihaknya masih menjadi skema yang tepat, misalnya dengan membentuk UPTD (Unit Pelaksana Tekhnis Daerah) dan kemudian bekerjasama dengan pihak ketiga. Yang pasti, instansi itu tidak ingin gedung-gedung tersebut terkesan menjadi gedung mati. Tapi, bagaimana dengan adanya gugatan dari para kontraktor? Yang mungkin ancamannya bakal menyita stadion utama Palaran karena pemerintah belum sepenuhnya membayar? Sayang Masri tidak ada di Samarinda ketika artikel ini ditulis. Ia berada di Laos bersama-sama dengan tim Indonesia menghadiri Seagames. Namun begitu ada jawaban dari Kepala Biro Hukum Pemprov Kaltim, Sofyan Helmi, yang menyebutkan pemerintah pasrah menunggu perintah putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Samarinda. “Tentunya kami berusaha tidak terjadi penyitaan lah. Ini kan milik rakyat, kalau disita nanti rakyat yang marah,” ujarnya. Gugatan itu sendiri sudah mulai disidangkan di Pengadilan Negeri Samarinda. Dalam dua kali sidang, wakil pemerintah provinsi belum ada yang hadir. *ch siahaan
|
Kekuatan yang sesungguhnya tidak datang karena yang kita miliki, tetapi datang dari yang kita lakukan. (Mario Teguh)







![]() | Hari ini | 71 |
![]() | bulan ini | 3120 |
![]() | Semua hari | 131451 |
| Home |
| Berita |
| Daerah |
| Parlementaria |
| Opini |
| Advertorial |
| Khas Kaltim |
| Redaksi |
| ITe I Inf Tekno |
EDISI 151: 1 Maret 2010



