|
|
|
Sabtu, 28 Agustus 2010 12:44 |
|
Dua orang petinggi Pemerintahan Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) menyandang predikat “tersangka”. Dia adalah Awang Faroek Ishak, Gubernur Kaltim dan Irianto Lambrie, Sekretaris Daerah Provinsi Kaltim.
Dua-duanya tersangkut kasus pada saat mereka belum menduduki jabatan terhormat sekarang ini. Awang Faroek misalnya, ia menjadi tersangka pelanggaran Undang-undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara, saat menjadi Bupati Kutai Timur, dan Irianto Lambrie menjadi tersangka korupsi ketika ia menduduki jabatan Kepala Dinas Perindustiran dan Koperasi Kaltim.
|
|
Selanjutnya...
|
|
Masih Mandi di Karang Mumus |
|
|
|
|
Sabtu, 28 Agustus 2010 10:54 |
|
Perempuan tua bernama Azizah itu tak ragu menciduk air sungai dan menyiram ke sekujur tubuhnya. Walaupun air terlihat berwarna hitam, Azizah yang berbalut kain sarung tetap riang. Di sebelahnya juga ada beberapa perempuan dan anak-anak melakukan aktifitas serupa.
Pemandangan seperti ini masih ditemui warga Kota Samarinda tiap pagi dan sore. Terutama di kawasan dekat Jalan Perniagaan Pasar Segiri Samarinda Ilir sampai belakang Jalan Dr Soetomo. Ada sekitar 250 ribu warga atau hampir separuh penduduk di kota itu yang tinggal di sisi kiri dan kanannya.
|
|
Selanjutnya...
|
|
Siapa Rugi, Siapa Untung? |
|
|
|
|
Kamis, 12 Agustus 2010 11:29 |
|
“Tanda-tanda kemenangan itu sudah terlihat,” kata seorang kandidat Calon Walikota Samarinda. Kemudian kandidat lainnya mengatakan; “Ada yang ingin menggagalkan Pemilukada”.
Begitulah isu yang berseliweran di Kota Samarinda. Sejak Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Samarinda menghentikan tahapan Pemilukada dan menunda pelaksanaanya dari 2 Agustus menjadi 12 Oktober 2010, ada pihak yang merasa senang dan ada pula yang kelimpungan.
Semua menghitungnya secara politik. Karena mereka bermain-main di opini publik. Rujukannya adalah popularitas dan elektabilitas. Yang punya popularitas rendah, sudah pasti memiliki tingkat elektabilitas (tingkat kesukaan) yang rendah pula. Nah, yang begini, tentu saja mereka merasa senang dengan adanya penundaan waktu itu. Karena mereka bisa menggunakan waktu yang ditunda untuk menambah bobot popularitas mereka.
|
|
Selanjutnya...
|
|
Kamis, 17 Juni 2010 16:23 |
|
Di suatu sudut jalan, ada gambar Syaharie Jaang mengenakan pakaian adat Jawa. Lengkap dengan blankon (tutup kepala batik khas Jawa) dan pakaian lurik. Di bawah foto besar di baliho itu juga ada tulisan yang intinya mengajak komunitas Jawa untuk mendukung dirinya yang maju bersama Nusyirwan Ismail sebagai calon walikota dan calon wakil walikota Samarinda, periode 2010-2015.
Syaharie Jaang sebenarnya berasal dari suku Dayak. Tapi, lumrah saja ia mengenakan pakaian adat Jawa. Maklum, istrinya, Puji Astuti memang asli dari Jogjakarta. Dari pergaulan sang istri di komunitas etnisnya, mau tidak mau membuat Syaharie Jaang terbiasa dengan lingkungan itu juga.
|
|
Selanjutnya...
|
|
|
|
|
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>
|
|
Halaman 1 dari 38 |