| Berkat Gemblengan Hidup Mandiri |
|
|
|
| Kamis, 03 Desember 2009 19:18 | |||
|
Walau terlahir dari keluarga sederhana, anak sulung dari empat bersaudara itu gigih memperjuangkan pendidikannya sampai ke perguruan tinggi. Bahkan, ia pun memperoleh beasiswa S2 ke Wagenngen University, jurusan Development Stady di Belanda. Bercerita sejarah hidupnya, Mulyati yang kelahiran Jombang, Jatim, itu datang ke Kaltim bersama orangtua dan tiga adiknya. Ayahnya sendiri lebih duluan ke Kaltim. Berwirausaha dengan membuat tahu. Lantas tahun 1974, ayah Mulyati merasa siap memboyong semua keluarganya untuk tinggal menetap di Handil, Kutai Kartanegara. Alhasil, Mulyati pun bisa menuntaskan S1 di Unmul Samarinda pada tahun 2000. “Setelah lulus Unmul, saya juga sempat melanglang buana mencari kerja. Akhirnya ada tawaran menjadi dosen di sini sampai sekarang. Dan, Alhamdulillah, saya juga sudah menjadi pegawai negeri,” urai Mulyati dalam suatu perbincangan dengan BONGKAR!. Hari-hari Mulyati memang banyak dihabiskannya di kampus. Selain mengajar, ia juga melakukan berbagai penelitian yang berkaitan dengan bidang ekonomi. Walau terbilang sibuk, ibu satu anak ini tetap tak pernah melupakan kodratnya sebagai ibu sekaligus istri dari seorang suami bernama Zakky. Mulyati tidak menampik, kemampuannya berbahasa Inggris membuatnya lebih mudah bergaul. Bahkan, mudah mendapat kesempatan dibanding yang lain. “Makanya, walau pun saya ini lulusan fakultas ekonomi, tapi saya juga mengajar bahasa Inggris,” katanya sambil tersenyum. Di bagian lain, gemblengan untuk selalu hidup mandiri dari orang tuanya menjadi faktor kuat hingga ia jadi wanita tangguh seperti sekarang. Posisinya sebagai anak sulung mendudukkannya sebagai tauladan sekaligus tempat curhat tiga adiknya. “Sampai sekarang kami masih sering bertukar pikiran, dan adik-adik saya masih sering bertanya,” ungkap Mulyati yang menikah sejak tahun 1999 ini. Mengenang sedikit pengalamannya selama menimba ilmu di negeri Kincir Angin, Mulyati mengaku sangat bersyukur bisa mendapat kesempatan itu. “Di Belanda, saya banyak dapat pelajaran dan pengalaman baru. Awalnya, sangat sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan. Maklum, banyaknya perbedaan budaya dan kebiasaan. Tapi, lingkungan di sana juga mengharuskan kita bisa berpacu lebih keras,” cerita Mulyati yang melanjutkan S2 tahun 2006 lalu. Namun, ada pesan bijak yang ia ungkap bagi kaum hawa. “Sebagai perempuan hendaknya selalu mengutamakan keluarga, karena semua bermula dari sana. Terlebih menyangkut pergaulan anak kita, semuanya tergantung bagaiman cara kita mendidiknya di rumah,” pesannya seraya menambahkan bahwa keinginannya untuk memberikan sesuatu yang lebih bagi dunia akan sangat berarti baginya. “Semua itu tak harus dilakukan dengan berkarir. Kita juga bisa lakukan melalui pergaulan dengan sesama, atau dengan tetangga di sekitar kita.” Sukses, Bu Mulyati. *yon ntebua
Biodata : Nama : Mulyati, SE, M.Sc
|
Kekuatan yang sesungguhnya tidak datang karena yang kita miliki, tetapi datang dari yang kita lakukan. (Mario Teguh)








![]() | Hari ini | 160 |
![]() | bulan ini | 2420 |
![]() | Semua hari | 187524 |
| Home |
| Berita |
| Daerah |
| Parlementaria |
| Opini |
| Advertorial |
| Khas Kaltim |
| Redaksi |
| ITe I Inf Tekno |
EDISI 173: 16 Agustus 2010



